![]()
Nama : Dudi Wahyudi
Tempat Tanggal Lahir : Bogor, 24 Oktober 1971
Pendidikan : D IV Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), MM Ubhara
Domisili : Jakarta, Pekalongan
Pekerjaan : PNS DJP
Sampingan : Instruktur Brevet Pajak
Contact : wahyudi_dudi@yahoo.com
Saya dilahirkan di daerah Cigombong Bogor tetapi sejak kelas 1 SD sampai dengan lulus SMA pada tahun 1990 tinggal di Sukabumi. Di Sukabumi, keluarga saya berpindah-pindah tempat tinggal karena belum mempunyai tempat tinggal tetap. Kelas 1 SD tinggal di daerah Cisarua, kelas 2 SD tinggal di Citamiang, kelas 3 sampai kelas 5 SD tinggal di daerah Rambay Cisaat. Tahun 1983 saya sekeluarga mulai tinggal di rumah cicilan BTN di daerah Parakan Lima, Cikembar. Saat itu saya tercatat sebagai siswa kelas 6 SD.
Karena sering pindah itu maka sekolah SD saya berganti-ganti mulai dari SDN Cisarua, SDN Cisaat I dan SDN Parakan Lima III. Lulus SD saya meneruskan di SMPN Baros Sukabumi yang sekarang bernama SMPN 13 Sukabumi. Setamat SMP saya meneruskan sekolah di SMAN 1 Sukabumi. Di masa SMP dan SMA inilah saya memiliki semangat belajar tinggi karena saya memiliki kesadaran bahwa untuk mengubah nasib yang paling gampang adalah dengan sekolah. Ukuran prestasi saya bisa dilihat dari nilai NEM tertinggi yang diperoleh baik di SMP maupun SMA.
Namun ternyata pintar saja belum cukup untuk mengubah nasib. Cita-citaku untuk kuliah di ITB tertaksa harus saya batalkan. Kondisi ekonomi orangtua yang pas-pasan memaksa saya mencari alternatif sekolah murah. STAN lah jawabannya. Maka dengan sedikit terpaksa saya menjalani kuliah di sekolah kedinasan itu. Saya coba mempelajari mata kuliah - mata kuliah yang tak pernah kubayangkan waktu SMA. Ilmu Kimia, Fisika dan Matematikaku tak ada gunanya. Namun aku tetap menyadari bahwa memang inilah garis hidupku.
Hidup memang seperti sekotak coklat. Kita tak tahu coklat warna apa yang akan kita dapat ketika mengambilnya. Begitupun dengan nasibku. Akhirnya aku kerja di Direktorat Jenderal Pajak. Tempat kerja yang juga tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tempat kerja yang, bagi kalangan aktifis mahasiswa, adalah tempat kerja “jahiliyah”. Sempat mau keluar karena kejahiliyahan ini, akhirnya aku memutuskan untuk bertahan walaupun risikonya aku harus terjangkiti virus kejahiliyahan itu. Namun syukur alhamdulillah tahun 2004 adalah titik balik nasibku dan juga nasib Direktorat Jenderal Pajak. Darahnya republik ini melakukan reformasi dan reorientasi serta reorganisasi. Kini aku bisa bangga berkata “Aku Orang Pajak“.








