Libur enam hari mulai Kamis mingu lalu sampai Selasa ini saya gunakan untuk keluarga. Sebagai orang yang bertemu keluarga hanya setiap Sabtu dan Minggu, liburan panjang ini saya rasakan sangat bermanfaat. Canda tawa bersama anak istri menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Hari-hari libur itu kebanyakan saya gunakan untuk menemani anak anak main game, makan berdama, menemani belajar, jalan-jalan  atau rekreasi ke pantai.

Namun di sela-sela waktu itu, saya juga menyempatkan diri membaca Novel nya Andrea Hirata yang pertama dari empat tetraloginya yaitu Laskar Pelangi. Saya yakin banyak orang sudah membaca buku ini. Dan saya tertarik membeli buku ini karena hal itu. Buku ini menjadi buku laris yang sudah banyak orang mengulasnya. Dan sayapun menjadi tertarik karenanya.

Buku ini memang buku yang menarik untuk dibaca dan memberikan inspirasi tersendiri bagi pembacanya untuk selalu memperjuangkan nasib. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini terutama tentang pentingnya perjuangan dan usaha keras untuk mengubah nasib.

Buku ini sebagian besar bercerita tentang perjalanan masa kecil penulisnya bersama teman-teman sekolahnya. Mereka menamakan diri kelompok Laskar Pelangi. Dengan bimbingan seorang guru yang berdedikasi tinggi, angggota kelompok ini bisa memiliki mimpi untuk keluar dari kubang kemiskinan dan kebodohan.

Namun demikian, tidak semua cerita berakhir happy ending. Cerita tragis dan memilukan dialami oleh dua orang anggota laskar pelangi. Lintang, si super genius, akhirnya hanya menjadi seorang kuli. Sementara Trapani mengalami kelainan psikologis berupa ketergantungan yang sangat akut kepada ibunya sehingga harus dirawat khusus di rumah sakit jiwa. Penulisnya sendiri sukses menempuh pendidikan di Inggris dan Perancis dengan memperoleh bea siswa.

Selain ceritanya yang menarik dan inspiratif, novel ini juga memberikan getaran tersendiri dalam jiwa saya. Kisah anggota Laskar Pelangi ini adalah kisah keseharian banyak anak Indonesia yang lahir dan besar dalam kemiskinan di era tahun tujuhpuluhan dan delapanpuluhan. Dan saya termasuk di dalamnya. Kemiskinan ini sangat ironi karena pada saat itu Indonesia masih menjadi negara penghasil minyak dunia. Entahlah uang dari harga minyak yang tinggi kala itu itu lari ke mana.

Saya merasakan sendiri bagaimana sulitnya orang untuk keluar dari kemiskinan karena waktu dan tenaga hanya digunakan untuk sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pendidikan adalah barang mahal sehingga mereka dengan sukarela atau terpaksa harus berhenti sekolah. Padahal pendidikan adalah cara untuk keluar dari lubang kemiskinan itu. Tanpa pendidikan, kemiskinan hanya akan melahirkan kemiskinan baru.

Kisah Lintang yang sangat jenius membuktikan hal itu. Kemiskinan telah memaksanya untuk berhenti sekolah. Dia tepaksa harus menggantikan Bapaknya yang meninggal sebagai pencari nafkah di usia yang sangat muda. Kisah ini memiliki titik-titik persamaan dengan perjalanan kisah hidup saya walaupun saya tidak sepintar Lintang dan keluarga saya tidak semiskin keluarga Lintang. Ya, saya masih beruntung bisa mnyelesaikan SMA dengan gaji seorang pegawai pos rendahan. Sementara selepas SMA saya beruntung bisa kuliah dengan gratis. Entahlah kalau Bapak saya meinggal seperti kisahnya Lintang, sayapun tak akan bisa sekolah  karena saya juga harus berperan sebagai pengganti orangtua mencari nafkah untuk Ibu dan lima adik saya.

Saat itu saya juga menyaksikan bagaimana orang-orang miskin yang berpotensi tidak dapat melanjutkan kuliahnya. Mereka tak seberuntung saya karena orangtuanya hanya pedagang kecil atau buruh tani. Teman saya paling pintar waktu SD pada akhirnya hanya menjadi tukang reparasi radio tape di kampung. Padahal saya tahu dia sangat berbakat dalam bidang teknik dan seni rupa.

Ketika selesai membaca Laskar Pelangi, saya tatap lekat wajah ceria anak-anakku Hisyam dan Hilmy. Semoga mereka tidak merasakan pahitnya hidup menjadi orang miskin. Semoga jiwa mereka bebas lepas mencari sumber-sumber ilmu tanpa dihimpit bayang-bayang kemiskinan dan kemelaratan. Semoga biaya pendidikan yang mahal di istana-istana ilmu milik negara yang hebat di negeri ini tidak menghambat mereka untuk memasukinya. Semoga.


  1. kalangkabut

    halo mas…. saya juga anak kampung dan kemabli ke kampung (orang)…. hehehehe

    Sama dong :-)

  2. ira

    aku kok tersentuhnya sama cerita dikau..

  3. petak

    saya baca postingan ini padahal saya masih sedang baca setengah,, endingnya jadi ga seru lagi nih,,

  4. hartanta

    yang bikin aku terenyuh adalah
    dirimu hanya ketemu anak istri sabtu dan minggu.

    kita senasib mas!

Leave a Comment