Sebagai anggota perkumpulan PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad), hampir tiap Jum’at saya langsung cabut dari kantor menuju terminal Pulogadung tuk pulang ke Pekalongan. Ya, moda angkutan yang saya pilih adalah bis dengan alasan harganya murah dibandingkan dengan kereta api. Untuk menumpang bis kelas eksekutif Sinar Jaya atau Dewi Sri cukup mengeluarkan uang senilai Rp50.000,- saja. Bandingkan dengan tiket kereta api. Tiket kelas bisnispun sekitar delapan puluh ribuan rupiah. Apalagi kelas eksekutif yang tiketnya di atas Rp150.000,-
Nah, hampir setiap minggu saya biasa menggunakan jasa bis Sinar Jaya atau Dewi Sri eksekutif untuk pulang ke Pekalongan. Saya biasanya naik dari Pulogadung karena di situlah biasanya bis eksekutif Sinar Jaya atau Dewi Sri berangkat.
Walaupun saya sering naik kedua bis ini, saya tidak begitu faham dengan keamanannya. Selama ini saya beranggapan bahwa di kedua bis ini, barang-barang yang kita bawa aman. Dan memang pengalaman selama ini menunjukkan demikian. Namun ternyata anggapan saya itu salah besar khususnya kalau kita membawa barang-barang elektronik berharga. Harga yang saya bayar atas ketelodaran tersebut sungguh mahal.
Setahun lalu, saya terobsesi untuk memiliki sebuah laptop untuk menunjang pekerjaan dan kegiatan mengajar serta untuk menyalurkan hobi baru saya dalam dunia komputer. Dengan uang pinjaman istri saya di koperasi serta sedikit tabungan, saya memberanikan diri membeli laptop seharga enam jutaan.
Singkat kata, laptop baru tersebut saya bawa pulang ke Pekalongan pada hari Jum’at berikutnya. Jadi umur laptop itu baru beberapa hari saja. Laptop saya masukkan ke dalam tas ransel biasa dengan harapan tidak menjadi perhatian orang. Di bis Dewi Sri, tas saya simpan di tempat penyimpanan barang di bagian atas. Besoknya saya kaget ketika saya ambil tas saya, laptop saya ternyata sudah raib. Saya sungguh kesal dan menyesal sampai berhari-hari. Tapi mau gimana lagi. Tinggallah cicilan hutang yang harus dibayar.
Kejadian kedua terjadi malam sabtu kemarin. Dari Pulogadung saya menumpang Sinar Jaya eksekutif. Seperti biasa tas ransel saya simpan di tempat penyimpanan barang di kabin bis. Saya tidak berani menyimpan barang-barang yang berharga lagi di tas kecuali kamera digital. Saya berani menyimpan kamera dgital saya karena saya yakin barang ini tidak terlalu menarik penjahat. Di samping sudah kuno, juga bukan merek terkenal. Lagian, barang ini sudah saya sering bawa bolak-balik Jakarta-Pekalongan, tapi tak pernah hilang. Jadi kayaknya memang aman. Ternyata anggapan saya salah lagi. Barang ini juga lenyap. Walaupun miungkin harganya gak seberapa, tapi saya merasakan kehilangan barang yang fungsinya cukup vital. Rasanya berat kalau untuk membeli penggantinya lagi.









Nopember 16, 2007 at 6:53 am
turut prihatin.. jangan sampai kejadian yg ketiga kali pak!
Makasih mbak Toetoet, Insya Allah waspada terus.
Nopember 17, 2007 at 9:31 am
Terminal bis agak makin rawan aja nih terhadap praktik2 kejahatan. Pak Dudi malah mengalaminya sendiri. Mudah2an akan mendapatkan ganti yang lebih bagus, Pak. Bisa jadi ini juga bentuk ujian dari Allah. OK, salam.
Terima kasih pak doanya. Mungkin ini hanya mengingatkan saya untuk selalu bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang diperoleh.
Desember 1, 2007 at 4:02 am
iseng2 buka blog ini, maksud hati cari informasi tentang kursus pajak brevet a, b, c. Eh, ada cerita menarik dari bapak, saya jg dr pekl,dari th.95 di NTT dan DPS kerja di persh bag. pajak dan dah terbiasa menghadapi pemeriksaan, lama-2 pengin buka konsultan pajak (selama ini sering free lance).Posisi skrg di probolinggo, piye carane mas, dimana tempat kursus terdekat dari prob, unibraw sdh saya datangi tp ga ada. salam kenal dan sukses slalu
Tempat kursus pajak yang bagus kayaknya di IAI, cuma yang di Surabaya saya enggak tahu. Kalau mau jadi konsultan menurut saya langsung saja ikut ujian BKP. Dengan pengalaman pajaknya saya yakin belajar sendiri juga bisa kok.
Mei 15, 2008 at 4:27 am
apa kabar pa dudi? ko kayanya aku cukup familiar ya sama nama ini? begitu aku liat fotonya ternyata pa dudi ini pernah jadi pelangganku waktu aku masih bekerja di formasi toh?masih inget toh bos?